Surat Kabar Kertasmu

Menyisir kabur demi kebenaran, selembar halaman pertama dunia yang terbuka di jemarimu setiap pagi.

Profile
KERTASMU

Rupiah Masih Undervalue? Ini 7 Jurus Sakti BI Kawal Kurs di Era Presiden Prabowo

2026.05.05 22:15
0 0

🤖Ringkasan profesional ini disusun oleh AI berdasarkan sumber berita terverifikasi.
AI SUMMARY INSIGHTS
  • 1Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan fundamental ekonomi Indonesia saat ini sangat kuat meski rupiah sedang tertekan 📈
  • 2Pemerintah dan Bank Indonesia telah menyusun tujuh langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah 🛡️
  • 3Tekanan jangka pendek dipicu oleh faktor eksternal global dan kebutuhan musiman seperti dividen serta ibadah haji ✈️
  • 4BI memastikan cadangan devisa dalam kondisi aman untuk melakukan intervensi pasar secara agresif 💰
  • 5Langkah ini mencakup pengetatan aturan pembelian valas hingga diversifikasi mata uang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS 🌏
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan sinyal optimisme di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini. Dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Perry menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini sebenarnya berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi domestik yang kokoh, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi terkendali, serta cadangan devisa yang solid.

💬 Menghadapi Tekanan Global dan Musiman
Meskipun fundamental kuat, Perry mengakui adanya tekanan jangka pendek yang tidak bisa dihindari. Faktor global seperti kenaikan harga minyak dunia, suku bunga Amerika Serikat yang tinggi, serta penguatan dolar AS menjadi tantangan utama. Selain itu, terdapat faktor musiman yang rutin terjadi pada periode April hingga Juni, yakni meningkatnya permintaan dolar untuk pembayaran dividen perusahaan, pelunasan utang luar negeri, hingga kebutuhan operasional ibadah haji.

💰 Tujuh Langkah Strategis Menjaga Stabilitas
Untuk meredam gejolak tersebut, Bank Indonesia telah menyiapkan tujuh langkah taktis yang telah mendapat restu Presiden:

Pertama, BI melakukan intervensi pasar valas secara intensif, baik di pasar domestik maupun pasar offshore global seperti Hong Kong, Singapura, London, dan New York melalui skema DNDF dan NDF.

Kedua, optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran modal asing (capital inflow) guna menyeimbangkan tekanan arus keluar di pasar saham dan SBN.

Ketiga, penguatan koordinasi dengan pemerintah melalui pembelian SBN di pasar sekunder yang telah mencapai Rp123,1 triliun sejak awal tahun.

Keempat, menjaga likuiditas perbankan tetap longgar dengan pertumbuhan uang primer yang mencapai dua digit.

Kelima, pengetatan aturan pembelian valas. BI menurunkan batas pembelian valas tanpa underlying dari US$100.000 menjadi US$50.000 per bulan, dan berencana menurunkannya kembali hingga US$25.000 per bulan.

Keenam, mendorong diversifikasi mata uang melalui Local Currency Settlement (LCS), seperti penggunaan yuan dalam perdagangan dengan China untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Ketujuh, peningkatan pengawasan ketat terhadap bank dan korporasi yang memiliki aktivitas pembelian dolar dalam volume tinggi, bekerja sama dengan OJK untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

🧐 Poin Penting: Langkah BI menunjukkan pergeseran ke arah kebijakan yang lebih protektif dan proaktif. Fokus pada diversifikasi mata uang (LCS) dan pengetatan aturan pembelian valas menjadi sinyal bahwa Indonesia ingin meminimalisir dampak volatilitas dolar AS dalam jangka panjang. Investor perlu memantau efektivitas intervensi offshore BI di pusat keuangan global sebagai indikator utama stabilitas rupiah ke depan.
Referensi
Source: Bisnis.com EkonomiDate: 2026-05-05 21:39URL: Perry Ungkap 7 Jurus Jaga Stabilitas Nil... 

Komentar 0

Buat Polling

Belum ada komentar..🥺
Jadilah yang pertama untuk meninggalkan komentar!